Selasa, 05 April 2011

koes plus bonus fideles

Dear Sahabat Blogger,

"Apalah arti sebuah nama" demikian Shakespeare berseru dan, kita, ada yang setuju. Tak kurang pula yang tidak setuju dengan itu. Kawan saya yang berasal dari daerah Manggarai diberi nama "Nganggur" karena ketika dia dilahirkan ayahandanya sedang tidak punya pekerjaan selain sebagai petani. Entah mengapa petani tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Saya diberi nama "Ludji" oleh almarhum Ayahanda Robert "SGT" Riwu Kaho secara serius dengan maksud untuk mengingatkan bahwa sekali dan seterusnya saya adalah orang Sabu dari suku Namata. Saya tak boleh menjadi orang Australia, misalnya, biar kata nama baptis saya adalah "michael". Adik saya, Vicktor Riwu Kaho, mula-mula memberi nama "Haga" kepada anak sulungnya. Belakangan dia merasa perlu untuk berjauh-jauh dari Jakarta ke Pulau Sabu hanya untuk melakukan ritual budaya Sabu guna mengganti nama "Haga" menjadi "Lobo". Hebat. So, bagi sebagian orang nama bukanlah sembarangan perkara. Nama harus memiliki makna. Demikian juga judul sebuah buku misalnya. Jangan memberi judul "mangga" ketika isi buku anda mengulas tentang "sapu lidi". Tak cocok itu bukan? Haaalaaahhhh...begitulah adab kita. Budaya kita. Maka untuk sebuah nama bila perlu tumpeng merah putih dibikin dan ..slaman slumun...jadilah baik.

Tapi saya punya 1 pengalaman yang mirip. Tahun dulu semasa duduk di bangku SMP di kota KUpang (SMPN 2) saya pernah dimarahi oleh seorang guru, Ibu Guru. Beliau adalah wali kelas II E kelas dimana saya berada. Ibu Messkah namanya. Saya ditegur gara-gara ada nama "ludji" di absensi kelas. Beliau menghardik saya dan bilang..."kamu jangan pake nama ludji lagi ya sebab itu adalah halaik, pake saja nama babtismu, michael"...halaik adalah kosa kata di Kupang untuk menyebutkan orang-orang yang tidak beragama sesuai dengan peraturan yang berlaku. Walah, saya malu tagal hardikan Ibu Guru dan semenjak itu saya berusaha mengaburkan nama "ludji". Sekali waktu nama "ludji" saya ganti dengan "rudy" (kebetulan waktu itu rudy hartono adalah sebuah nama yang sedang ngetop abiz). Giliran Ayahanda saya yang menghardik. Kebiasaan mengaburkan nama "Ludji" tanpa sadar masih saja berlanjut sampai sekarang. Jikalau saya harus menuliskan nama saya di daftar hadir atau yang sejenisnya. maka pastilah saya akan menulis "L. Michael Riwu Kaho". Jelas sudah bahwa aforisme "what is a name" tertolak oleh budaya di sekitar saya. Tak tahu jikalau anda. Ungkapan itu mungkin tepat untuk orang-orang barat. Orang Belanda menggunakan nama "Van de Kerkhoff" padahal itu artinya "kuburan". Dulu ada pemain sepak bola Belanda yang kembar bernama Rene dan Willie Van de Kerkhoff yang artinya Rene dan Willie dari kuburan...waallaaahhhhh.....

"What is a name", kata Shakespeare. Saya pikir yang dimaksudkan oleh Shakespeare adalah substansi. Mawar tetaplah mawar yang indah biar berganti nama menjadi kapuk. Nama boleh berganti dari "Ludji" menjadi "Michael" tetapi jikalau malas ya tetap saja malas bukan? Lihat saja para teroris yang diburu dan ditangkap oleh Densus 88. Nama aliasnya banyak banget tapi apakah mereka berubah menjadi sesuatu yang lain? Ya tidak juga. Kelakuan mereka ya tetep itu ke itu juga. Jikalau begitu maka kendati nama memang cuma sebuah atribut tanda identitas tetapi sesungguhnya hal yang terpenting adalah nilai intrinsik yang terkandung di dalam substansi. Kata emas menjadi berarti karena nilai karatnya bukan? Lalu judul tulisan di atas ingin mengingatan tentang substansi intrinsik di maksud. Koes Plus adalah nama grup band. Bonus fideles artinya mereka itu baik. Apanya yang baik dari Koes Plus? Lagu baru dapat diciptakan lebih bagus dari lagu Koes Plus dan memang sudah banyak lagu yang secara teknis artistik lebih indah ketimabang lagu-lagu Koes Plus yang umumnya bersifat "3 jurus" itu. Kalau begitu apa?

Koes Plus adalah sebuah grup band fenomenal di Indonesia. Di masa saya masih duduk di bangku SD, memegang buku tulis yang ada gambar Koes Ploes adalah "kewajiban". Lagunya wajib dihafal dan di senandungkan. Grup ini memang amat sangat hebat. Konon merekalah yang menjadi peletak dasar perkembangan musik pop di Indonesia. Di masa mereka, grup band lain seperti Favourites, The Mercy's, D'Loyd dan yang lain-lainnya terasa cuma varians dari Koes Plus. Grup band di masa sekarang dianggap mengerjakan sesuatu yang merupakan pengembangan Koes Plus. Siapa mereka ini? Saya pikir kebanyakan kita tahu bahwa grup ini digawangi oleh bersaudara Koeswoyo, yaitu Koestoni (Tony), Koesroyo (Yok), Koesyono (Yon) + 1 orang pemain drum yang bukan berasal dari klan Koeswoyo, yaitu Murry. Dominasi klan Koeswoyo sangat wajar karena sesungguhnya Koes Ploes adalah terusan dari Koes Bersaudara dimana Koesnomo (Nomo) ada posisi yang ditempati Murry sebagai drummer. Mengapa demikian? Pada mulanya adalah Koes Bersaudara yang eksis terlebih dahulu dengan formasi Toni, Yok, Yon, Nomo dan Koesdjono (John) pada tahun 1960. Lagu-lagu seperti “Bis Sekolah”, Di Dalam Bui, “Telaga Sunyi”, dan “Laguku Sendiri”. Pada masa-masa di antara 1960-1965 gaya bermusik mereka amat dipengaruhi oleh gaya the "everly brothers" (yang kondang dengan lagu antara lain "let it be me") dan "the bee gees".

Pada tahun 1965, 1 Juli, mereka ditangkap oleh KOTI dan mengurung mereka di rumah tahanan Glodok dengan tuduhan bermusik "ngak ngik ngok" yang bukan budaya dhewek. Penahanan tersebut tak lama karena pada tanggal 29 September 1965 tapi ternyata ikut berpengaruh terhadap kisah grup mereka dan sekaligus dunia musik Indonesia. Bertahun-tahun kita memahaminya sebagai bentuk represif dari pemerintah Orla pimpinan Bung Karno. Tapi pada saat wawancara di acara "Kick Andy", Metro TV, mereka membuka rahasia bahwa sebenarnya penangkapan mereka itu hanyalah sebuah sandiwara "operasi rahasia" yang diperintahkan oleh Bung Karno guna mendukung operasi "ganyang malaysia". Jadi mereka sebenarnya berkolaborasi dengan pemerintah. Entahlah mana yang benar tapi yang pasti ada masa mereka terpaksa berhenti bermusik. Pasca kebebasan dari penjara, iklim perpolitikan di Indonesia ternyata kurang mendukung perkembangan dunia kesenian di Indonesia umumnya. Konstruksi politik Indonesia di awal Orba yang dikuasai oleh Soeharto dan Tentara, yang menggantikan Bung Karno dan Orla-nya, menciptakan banalitas yang masif. Penangkapan dan pelenyapan orang-orang yang dideeksi atau dicurigai terkait PKI menciptaan ketakutan kolektif dan suasana saling curiga mencurigai. Banyak ketika pastian dan di masa inilah John keluar dari formasi. Koes Bersaudara.

Sekali waktu, ketika Koes Bersaudara sedang melakukan pertunjukan di daerah Tony mendapat kabar bahwa suasana Jakarta memanas. Terjadi penangkapan besar-besaran. Beberapa teman dari Tony menghilang begitu saja tak tentu rimbanya. Jakarta tidak aman dan Tony diperingatkan oleh teman-temannya bahwa, mungkin. karena kedekatannya dengan rezim Bung Karno maka Koes Bersaudara terancam. Terjadi dilema, kembali ke Jakarta atau tidak? Situasi mencekam seperti itu menyebabkan Nomo memutuskan untuk keluar dari grup. Dia memilih menjadi pedagang besi-besi bekas. Tapi Tony dan adik-adik yang lain menetapkan 1 tekad, harus kembali ke Jakarta dan harus terus bermusik. Tidak ada pilihan lain selain bermusik karena itulah cinta mereka. Tony dan adik-adik memilih untuk setia pada pilihan hidup mereka. Maka kembalilah mereka ke Jakarta meski apapun yang akan terjadi. Balada ini mereka tuangkan dalam lagu "kembali ke Jakarta" dan dimunculkan pada rekaman perdana grup Koes Plus. Lho, mengapa Koes Plus? Ya, Koes Bersaudara dalam formasi Toni, Yon, Yok dan Nomo hanya bertahan sampai 1968. Setelah Nomo keluar masuklah Murry yang bukan Koeswoyo itu. Pada saat rekaman pertama kali. Yok yang kurang sreg dengan adanya orang luar ke dalam formais band memutuskan solider dengan Nomo lalu keluar dari Koes Plus. Akibatnya, posisi sebagai basist kosong dan beberapa pemain tamu mengisi posisi yang ditinggalkan Yok. John Koeswoyo sering masuk formasi untuk tujuan show panggung. Dan pada saat rekaman album perdana Koes Plus, pemain tamu yang masuk formasi adalah Totok A.R. Inilah formasi dalam rekaman perdana Koes Plus, yakni Tony, Yon, Murry dan Totok A.R.

Album perdana itu memuat beberapa lagu seperti Derita (Tonny), Awan Hitam (Tonny), Tiba Tiba Aku Menangis (Tonny), Bergembira (Tonny), Tjintamu Telah Berlalu (Tonny), Dheg Dheg Plas (Tonny), Manis Dan Sajang (Tonny), Hilang Tak Berkesan (Tonny), Kembali Ke Djakarta (Tonny), Biar Berlalu (Yon) dan Lusa Mungkin Kau Datang (Tonny). Perhatikanlah deretan lagu-lagu tersebut. Semuanya indah dan hebat. Beberapa di antaranya bahkan rekam kembali berulang-ulang oleh berbagai penyanyi lainnya. Menjadi legenda. Tapi jangan salah, album perdana itu setelah direkam ternyata pada awalnya ditolak dimana-mana. Bahkan ada toko kaset yang menertawakan lagu seperti "Kelelawar". Lagu aneh kata mereka. Maklumlah ketika itu Koes Plus sedang bertransformasi dari keterpengaruhan "everly brothers" dan " bee gees" menjadi "lebih Indonesia". Akibat tidak lakunya album perdana mereka maka Murry kabur. Totok A.R. keluar. Adalah Tonny yang terus memupuk semangat anggota Koes Plus yang lainnya lalu membujuk Yok dan Murry agar masuk kembali dalam formasi band. Nasib baik memihak mereka dan pada tahun 1970 akhir lagu mereka meledak di mana-mana. Dan kesuksesan mengalir bersama mereka bertahun-tahun sampai meniggalnya Tony pada tahun 1987. Koes Plus pun surut sesuai tuntutan jaman tetapi lagu-lagu mereka abadi sampai hari ini. Inilah Grup tersukses di Indonesia. Apa tolok ukurnya? belum ada Band di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, yang mampu merekam hampir 22 album dalam 1 tahun seperti yang dilakukan Koes Plus pada tahun 1974-1975. Tidak ada pula grup band yang mampu merekam lagu dalam genre yang sangat berbeda. Anda mau tahu musik jenis apa yang pernah dimainkan oleh Koes Plus dan semuanya sukses? Pop, Rock n Roll, Rohani Natal, Qasidahan, Pop Jawa, Instrumentalia, Dangdut, Keroncong dan kompulasi the best. Jangankan band dalam negeri bahkan The Beatless, The Rolling Stones ataupun Led Zepplin tak tercatat melakukan itu. Seorang editor wikipedia mengatakan bahwa "Seandainya kelompok ini lahir di Inggris atau AS bukan tidak mungkin akan menggeser popularitas Beatles"

Anda tahu apa rahasia mereka? Filsafat manusia mengajarkan tentang 3 bentuk kebaikan, yaitu kebaikan karena ada gunannya (bonum utile), kebaikan karena menyenangkan (bonum delectabile) dan kebaikan karena memang baik atau kebaikan yang sesungguhnya (bonum honestum). Orang bisa saja berlaku baik kepada kita karena kita punya sesuatu yang dia perlukan atau dia butuhkan dari kita. Kita menerima kebaikan sejauh kita mendatangkan manfaat bagi oarng lain. Ada uang abang sayang tak ada uang abang aku buang. Bisa juga terjadi orang bisa baik kepada kita karena kita menyenangkan hatinya. Suami dan isteri sering memutuskan bercerai karena tidak lagi saling menemukan kesenangan. "Tak ada kecocokan lagi" katanya. Tetapi syukurlah ada kebaikan jenis ketiga dimana orang bisa baik kepada kita karena memang dia orangnya baik. Kita mungkin tidak berguna dan tidak menyenangkan bagi dia tetapi dia memang mau mencintai kita. Bonum begini adalah Bonum milik Allah yang mengasihi kita secara sepihak. Tanpa memperhotungkan dosa dan kedegilan kita, DIA mau memberi CINTA-NYA bagi kita. Bonum seperti ini bersifat Ilahiat. Dan yang asik adalah bahwa bonum ini ditawarkan oleh Sang Pencipta kepada manusia untuk memilikinya juga. Saya tak tahu anda dan saya memilih yang mana tapi Koes Plus jelas memilih bonum honestum. Ketika bermusik ternyata mendatang petaka, ketakutan dan kemiskinan mereka tetap setia pada pilihan hidupnya. Dalam nama apapun grup mereka, ataukah Koes Bersaudara ataukah Koes Plus, adalah Tony dan adik-adik telah mendemonstrasikan makna kesetiaan. Mereka tak bergeming kendati dicekam situasi. Berkarya dan terus berkarya kendati dizalimi, dicemooh dan miskin. Itulah cinta. Itulah kesetiaan. Hal ini nyata sekali dalam lagu mereka "kembali ke djakarta". Apapun boleh terjadi tetapi "di djakarta" tetapi langkah kaki tak akan berhenti untuk selalu kembali "kesana". Tony dan saudara dan kawan mungkin tidak kaya raya karena pilihan ini tetapi mereka telah membuat saya, mungkin anda dan jutaan orang lainnya berbahagia. Sungguh mereka orang baik. Sayapun bermimpi sekali waktu saya bisa juga akan di sapa, entah sebagai "Ludji" atau "Michael" atau "ludji michael:..."eh si Ludji Michael tuh ... orangnya ... bonus fideles lho. Orang baik tuh". Ahaaaaa, alangkah bahagianya.

Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 12 Juli 2009

inilah calon presiden pilihan saya (posting iseng - ih seneng)

Dear sahabat blogger,

Masa edar posting lama hampir habis. Saya sedang menyiapkan sebuah posting baru tetapi masih belum "layak tayang" tagal masih ada yang harus diperiksa kembali. Tetapi keinginan untuk membuat posting baru amatlah kuat....sooo....so what giiicyyyuuu loohhh ...... hhmmhhhhhh .... Naaaaahhhh, ada jalan, begini:

Masa kampanye pilpres sudah selesai. Ke-tiga pasangan Capres/Cawapres sudah unjuk gigi, unjuk kebolehan, termasuk unjuk janji dan unjuk bohong (walaaahh....supaya konsisten dengan posting lama saya saya ganti saja menjadi...), .... unjuk kompetensi lupa-lupa ingat...lupa kelakuan diri sendiri tetapi ingat betul kesalahan orang lain....wwwrrrrrrrr.......capeeeek deh....maka, jujur saja: saya bosan. Betapa tidak, Mega-Pro (sebenarnya saya menyukai pasangan ini tapi...) agak membosankan. SBY-Berboedi paling suka ja'im tapi mamma miaaaa,... justru paling gemar "mengolok-olok orang lain. SBY pernah mengaku dikeroyok padahal entah apa namanya jumlah koalisi pro SBY yang amat banyak itu ketimbang lawan-lawannya. Lebih tidak nyaman lagi bagi saya adalah ketika dalam debat terakhir SBY terlihat "cuci tangan " dihadapa isu iklan "pilpres 1 putaran". Kasiha Denny JA karena tidak "diakui" oleh SBY. "Dia bukan bagian dari tim kampanye saya", begitu kata SBY. JK-Win, sebenarnya paling atraktif, Lucu dan menggemaskan. Tapi ya itu loh....lupa-lupa ingatnya amat kuat...ingat kesalahan SBY lupa bahwa dia juga bagian dari pemerintahan SBY.......Kesimpulannya? Saya masih harus menunggu hari-hari terakhir menjelang d-day, 08 Juli 2009....itupun jika pemilu jadi dilaksanakan 8 Juli karena...konon...Mega-Pro dan JK-Win masih mempersoalkan DPT (daftar pemilih terkacau) yang tetap amburadul. Kata berita di www.tempo interaktif.com "Dikhawatirkan 30 Juta Orang Tak Bisa Memilih" ..... bujuuuu buneeenggg....mamma tana yaaaeeeeeee.....

Jikalau berita itu benar, mohon maaf, dengan keyakinan bahwa pemilu adalah wadah ekspresi kedulatan rakyat dan ketika partisipasi rakyat dicedarai maka, bagis saya, pilpres 2009 adalah sebuah "perselingkuhan". Perbuatan serong yang merampas kedaulatan rakyat. Kata pemerintah...waaah, itu urusan KPU. Kata KPU...walaaaahhh....DPT berasal dari Mendagri. Siapa salah siapa benar? Hanya Tuhan yang tahu. Tetapi saya masih berbaik sangka. Sebelum berita itu terbukti benar maka masih ada 1-2 hari ke-depan bagi saya untuk memutuskan ikut tidaknya dalam proses pilpres 2009. But, time is running out. Bagaimana jika masalah itu kembali tidak berujung pangkal atau pangkalnya dianggap tiada lalu ujungnya dipaksa juga untuk ditegakan...sebelum diduga macam-macam, maksud saya adalah: ...akar masalah DPT diabaikan lalu tanggal 8 Juli 2009 pemilu berjalan bagai business as usual. Benakah? Ya, mbuh. Lagi-lagi hanya Tuhan yang tahu. Jikalau benar skenario buruk itu yang terjadi maka mohon dimaafkan karena saya terpaksa memilih capres-capres lain. Dan inilah mereka:

1. Bob Dylan
2. Iwan Fals
3. Mick Jagger dan the Rolling Stones-nya

haaaaaaaaaa??????? apa-apaan ini???? ... ya begitulah keinginan saya... ini blog saya dan saya berdaulat di blog ini kan???? .... ha ha ha ha.....Maksud saya, dari pada pusing-pusing mikirin pilpres yang kurang bermutu ini lebih baik saya mendengar lagu-lagu ciamik dari 3 tokoh musik yang paling mendekati warna suasana hati saya. Apa saya ini? Sudah barang tentu untuk menguraikan siapa saya ada filsafatnya (dan akan saya postingkan nanti) tetapi mungkin di balik semua "kedogolan" saya, maka saya sebenarnya adalah "orang dengan semangat anti kemapanan yang amat kuat". Betulkah itu adalah saya seluruhnya? TIDAK JUGA karena sesungguhnya saya adalah manusia paradoks dan oleh karena itu....uuuupsssss stop sampai di sini saja dahulu karena saya tidak ingin banyak bacot tentang perkara ini...lain kali saja.....

Sekarang, back to the laptop, mengapa 3 manusia di atas saya pilih sebagai caprem ...eh ini bukan salah ketik...CAPREM (calon presiden musik...wkwkwkwkwk....).

Pertama, semua ketiganya punya semangat anti kemapanan yang amat kuat. Bagi mereka, hidup bukanlah hal statis dan establish. Hidup harus terus bergerak dan berubah. Jagger dan The Rolling Stones adalah pelopor generasi bunga yang menghantam kemapanan yang dibawa oleh the Beatles. Jika the Betales tampil rapih maka Jagger dkk. urakan. Mereka menjadi pioner generasi hipies dalam dunia musik. Jangan salah, idea yang dibawa oleh flower generation bukan hanya melanda kaum pemusik tetapi juga merasuki hampir semua budaya mapan di dunia. Lalu bagaimana Bob Dylan? Robert Zimmerman, nama asli Bob Dylan, sejatinya adalah pengikuti The Rolling Stones tetapi spesialisasinya lain. Bagi Bob Dylan, bermusik adalah alat yang digunakan sebagai media penyampai aspirasi politik dari young flower generation yang menentang ketidakberesan politik negara. Bob Dylan berani, amat berani, mengkritik negaranya sendiri USA dalam urusan Perang Vietnam yang memang tak jelas moralitasnya itu. Musik protes semacam ini menjaid trend besar di akhir 1960-an dan mereka berhasil. Nixon memutuskan berhenti berperang di Vietnam. Lalu, bagaimana Iwan Fals? Tak diragukan lagi. Kota Bandiung yang amat Stones Mania di tahun 1970-an rasanya ikut membentuk ide-idenya bemusik. Lalu, bukan cuma itu, menuut pengakuannya sendiri di tahun 1980-an, Bob Dylan menjadi inspirasinya. Keberanian Iwan tidak main-main, ketika semua pemusik, dan bahkan kebanyakan masyarakat tidur tiarap di hadapan pemerintah ORBA yang anti demokrasi itu, Iwan Fals berteriak keras.....BONGKAR....dan dia dimusuhi pemerintah ORBA serta kaki tangannya. Lalu, saya ingat betul dalam salah satu wawancara di TV bersama seorang tokoh pergerakan mahasiswa di tahun 1998 yang mengkui bahwa lagu-lagu Iwan Fals menjadi salah satu sumber semangat bagi perjuangan mereka. Dan, mereka berhasil. Ya, mereka adalah generasi penikmat Iwan Falz yang tegar melawan ketidakadilan. Iwan Fals bukan bertipe penyanyi oportunis bayaran yang dengan mudah mendendangkan lagus setipe jingle indomie-SBY. Mental Iwan bukan mental lunak sepert itu.

Kedua, selain beridealisme anti kemapanan (...sama seperti saya ehemmm...), adalah persistensi mereka dalam bermusik. Caprem pilihan saya adalah orang yang terus berkarya bertahun-tahun tak ada hentinya. Elvis berjaya antara 1957 - 1977 setelah itu frustrasi dan mati. Jacko berjaya antara 1968 - 1990-an. Sepuluh tahun terakhir sudah tidak ada lagi karyanya yang gemilang. Hidupnya digerogoti skandal skandal. Lalu, frustrasi dan mati. Freddy Mercury dimana? Bercinta overdosis membuat dia meregang nyawa tagal AIDS. Nah, tiga caprem saya itu, memang tidak bebas dari perkara kontroversial, tetapi lihatlah: Jagger dkk, berkarya sejak 1962 - hari ini. The Rolling Stones masih terus merekam dan menguasai panggung konser sebagai group dengan bayaran termahal. Penonton konsernya di Brazil yang berjumlah 2.5 juta orang di tahun 2007 adalah sebuah rekor dunia yang belum terpecahkan. Album terakhir Bob Dylan dengan mudah menempati anak tangga # 1 di chart lagu dan album, baik di Amerika maupun di Inggris padahal dia sudah berkarya sejak tahun 1964. Iwan Fals masih amat disegani di Indonesia dan masih terus memproduksi lagu-lagu hits yang baru kendati dengan tema yang lebih soft. Berkali-kali diajak terlibat dalam politik praktis tetapi Iwan menolak. Komitmentnya hanya untuk bermusik. Iwan pantas dihormati atas sikapnya itu.

Ketiga, jika diperhatikan amat sangat, suara ketiga caprem saya tersebut sesungguhnya tidaklah merdu-merdu amat. Bahkan menurut saya, Bob Dylan tidak sedang bernyanyi melainkan menggerutu. Iwan Fals lebih sering kedengaran sedang berteriak dan bukannya bernyanyi. Suara Mick Jagger yang melayang ringan itu sebenarnya terdengar seperti sekedar aliran udara yang didesak keluar dari tenggorok lalu melintasi lidah panjangnya dan akhirnya tersebar kemana-mana melalui bibir super ndower-nya itu. Nggak merdu.

Lalu, mengapa 3 variabel itu, yaitu anti kemapanan, persistensi bermusik dan suara yang biasa-biasa menjadi tolok ukur? Ada jawaban yang amat filosofis tetapi mohon maaf, saya simpan saja dahulu. Mudahnya begini: tak pernah mau diam adalah wujud manusia yang harus selalu berbuat. Bekerja dan membuat perubahan. Persistensi adalah hal yang bertalian dengan konsistensi dan komitmen. Akhirnya, suara yang biasa-biasa menggambarkan bahwa sesungguhnya kita adalah manusia biasa. Manusia fana yang mudah keliru. Manusia rata-rata tetapi adalah Rahmat-NYA maka kita diberkati Tuhan dengan talenta. Sukuri lah talenta dari Tuhan (bandingkan dengan MJ yang "menolak berkulit hitam" - Quincy Jones). Bekerja secara konsisten guna mewujudkannyatakan rasa sukur kita. Sisanya adalah "C'est La Vie". God Will Bless Us

Mari bantu saya menikmati musik-musik anti kemapanan dan persisten dari 3 caprem pilhan saya.


Please
listen and have enjoy, my friends


Tabe Tuan Tabe Puan

Senin, 16 Maret 2009

Franky S, Iwan Fals dkk: kita di bawah naungan “bendera yang sama” meski kampanye membelah kita

Sahabat Indonesia,

Musim kampanye terbuka dalam rangka pemilihan umum telah tiba. Keriuhan di sana-sini....heeeiiii .... saya suka si merah......ane sih milih si kuning ajah .... abdi mah si biru waaaeeeeee.....kulo nderek sing ijo-ijo ..... eeehhhh kitorang suka yang warna ungu moooo.......lalu, semua kita terbelah dan berbeda sesuai warna favorit kita. Dan cilakanya, terdapat 38 "kotak" yang akan memisah-misahkan kita + "kotak-kotak" lokal di Aceh + kotak berwarna putih. Dan ada yang lebih cilaka lagi, dalam satu rumah bisa saja abah, ambu, teteh, adik, paman, dan atau bibi ramai-ramai menjadi calon anggota legislatif dari kotak dengan warna yang berbeda...memilih si ambu, si teteh ngambg ke kita.....memilih mencontreng gambar si abang, yang adik tersinggung dan marah besar ke kita.......wwwuuuiiiiiuuhhhhhh......ambooooiiiiii....ramai.....ramaaaaaaiiiii banget.

Dan lalu, begitulah sidang pembaca. Kita berada dalam suatu situasi di mana kaki kita serasa berdiri di tubir jurang: perpecahan. Seringkali di mulut kita berteriak....bersatulah .....tetapi lihatlah....diam-diam kita mempersiapkan diri untuk ...... bercerailah......

Di situs berita www.detiknews.com, Ketua KPU Abdul Hafiz Ansyari mengatakan bahwa : "kami juga melarang para parpol melakukan pawai selama kampanye dan jangan sampai berbarengan kampanye konvoinya". Mudah ditebak mengapa sang Ketua KPU berseru demikian. Ya, pastilah untuk menghindarkan terjadi kerusuhan massa. Saya tidak tahu, terbuat dari bahan baku apa syaraf-syaraf emosi bangsa kita ini. Disenggol sedikit langsung berantem. Mudah marah dan mudah tersingung tetapi anehnya ...amat gemar berolok-olok. Suka menghina. Lebih aneh lagi, orang-orang pemarah ini setiap jumat tidak pernah alpa mengunjungi Masjid. Setiap hari minggu rasa-rasanya rumahnya sudah dipindahkan ke samping Gereja. Pura dan Kuil seolah nama tengah meraka.....ajaaaiiibbbbb.....ajaiiiibbbbb......rajinnya sembahyang = rajinnya bertengkar

So, sebelum semua pihak, apakah itu pemilik, pengurus dan suporter kota-kotak berwarna-warni itu beraksi lebih jauh maka marilah kita tengok kembali suatu himbauan yang tepat dan dari Franky Sahilatua, Iwan Fals, Edo Kondologit , Nicky Astria, Trie Utami dan lain-lainnya:..... "jangan kita mudah bertengkar dan mudah berpisah dan mudah berpencar" karena....kita semua satu keluarga besar....kita semua sama bernaung di bawah bendera yang sama.... Merah Putih ...... Indonesia.

di bawah tiang bendera
(Franky S, Iwan Fals, Edo K, Nicky A, Trie U dkk.)

Tabe Tuan Tabe Puan

Rabu, 11 Maret 2009

some day never comes by CCR ..... damai yang tak kunjung datang

Dear sahabat blogger,

Pernah mendengar Perang Vietnam? Pastilah sudah. Ya, perang ini adalah perang yang brutal. Amat brutal untuk tujuan yang amat sumir. Adalah serial penjajahan, perang,pembebasan dan permufakatan ganjil menyebabkan Vietnam Raya terbelah 2. Di Bagan Utara berdiri negara Republi Demokratik Vietnam atau Vietnam Utara yang komunia dan berafliasi ke China dan Soviet. Sementara itu di bagian Selatan berdiri Republik Vietnam yang ditongkrongi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Dan mudah ditebak, era perang dingin yang merupakan arena persaingan Rusia VS Amerika Serikat memperburuk semuanya.

Setelah perang yang berkepanjangan akhirnya semangat rakyat Vietnam untuk tegak berdiri sebagai satu kesatua yang tidak terpisahkan tercapai. Di lihat dari adagium bahwa perang adalah perpanjangan medan pertarungan politik maka jelas dan terang benderang bahwa Vietnam Utara dan Soviet adalah pemenangnya. Tentara Vietnam Utara menang. Tentara Vietnam Selatan menjadi pecundang. Komunisme berkuasa di Vietnam dan mempersatukan kembali negara yang terpecah belah itu. Inilah perang yang akan dikenang secara politis sebagai kekalahan si Cowboy Yankee, Amerika Serikat. Beres? Belum.

Jika kemenangan dalam peperangan diukur melalui besarnya kehancuran yang dialami oleh pihak musuh maka perhatikan data berikut ini:
  • Jumlah tentara Ameriksa Serikat yang tewas: 58.226 jiwa dan 153.303 cedera/cacat;
  • Jumlah tentara Vietnam Selatan yang tewas : 200.000 jiwa;
  • Jumlah total tentara di pihak utara yang tewas mencapai 1,1 juta jiwa (menurut data Vietnam Utara) dan 3,2 juta jiwa (menurut data AS);
  • Jumah penduduk Vietnam, utara maupun selatan, yang tewas selama 2 periode perang di antara tahun 1957 - 1974 mencapai 4 juta jiwa.
  • Jutaan hektar hutan Vietnam yang terbakar selama masa operasi "rolling hunder" dengan bom-bom napalm yang dahsyat itu;
  • Jutaan penduduk cidera, cacat permanen dan trauma akibat penggunan senyawa kimia beracun sebagai substansi bom.
Siapa menamg siapa kalah? Atau begini saja: "menang jadi arang, kalah jadi abu". Jadi, secara militer AS tidak kalah. Bahkan sampai saat Richard Nixon membuat keputusan untuk menarik diri dari Vietnam dan membiarkan Vietnam Selatan berusaha mempertahankan dirinya sendiri, secara umum mesin temput USA "baik-baik saja". Bahkan setiap kali Vietnam Utara berulah dan tidak mau masuk ke meja perundingan, tentara AS menggunakan kekuatannya militer untuk memaksa. Biasanya Vietnam Utara, atas bujukan Uni Soviet dan China, mau juga duduk di meja perundingan setelah kampanye militer AS. Ketika itu, tentara AS diperintahkan untuk berhenti beroperasi meski situasi di lapangan menunjukkan seharusnya sernagan tidak boleh dhentikan. Ketika Vietnam Utara "mutung" dan mundur dari meja perundingan maka kampanye militer USA dijalankan lagi tetapi seolah-olah semuanya harus mulai dari awal dan dimulai dengan "membunuh" lebih banyak musuh lagi. Situasi maju tidak dan mundur tidak, sementara meski lebih sedikit tetapi korban di pihak AS juga berjatuhan., membuat militer AS mengalami frustrasi berat. Tentara AS, yang bagaikan anjing galak yang maunya mengiggit tetapi lehernya dirantai, depresi dibuatnya. Dan secara perlahan mengalami demoralisasi.

Sementara itu, nun jauh dari daratan hutan Vietnam, masyarakat AS mulai ribut mempertanyakan moralitas peperangan yang terjadi di Vietnam. Demo anti-perang Vietnam mulai marak. Lama-kelamaan gelombang demonstrasi semakin meluas dan rakyat AS bukan cuma ribut tetapi mulai berteriak keras dan menuntut: "mengapa kita menjadi pembunuh di Vietnam?". "STOP PEMBANTAIAN di Vietnam". Rupa-rupanya parade gambar orang-orang yang mati akibat kampanye militer AS ditonton bagai horor di televisi. Hal ini mengusik rasa kemanusiaan orang AS. Satu persatu tentara AS yang tewas dan cacat mulai menimbulkan histeria massa: "untuk apa anak-anak kami di bunuh untuk tujuan yang tidak jelas itu". "Amerika sedang tidak dijajah lalu mengapa berperang dan membunuh?"......

Salah satu aspek psikologi massa yang mengemuka adalah betapa banyaknya anak-anak yang kehilangan ayahnya yang berangkat sebagai prajurit dan lalu mati atau tewas di Vietnam. Pagi-pagi ayahanda mereka pamit berngkan ke suatu suatu tujuan yang tidak diketahui si anak dimana tempat itu. Ketika sang anak bertanya: untuk apa berangkat? Ayahnya menjawab: "nanti engkau akan tahu sendiri suatu hari nanti". Someday. Tetapi hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Sang Ayah tak pernah kembali. Hanya ibunya yang dijumpai setiap hari dan juga sedang bersedih hati. Lalu menangislah sang anak...someday never comes, papa......

Super Group asal AS, Creedence Clearwater Revival (CCR) yang fenomenal itu menangkap secara persis fenomena psikologi anak-anak korban perang yang kehilanagn ayanda mereka itu. Lalu dibuatkanlah sebuah lagu. Lagu dari CCR itu kemudian menjadi salah satu lagu wajib kaum anti perang Vietnam. Dan seharusnya juga substansi lagu itu dipahami oleh kita sekarang ini. Untuk apa semua peperangan ini? Untuk apa semua perkelahian, pertentangan, dan pembantaian yang kita lakukan sekarang ini? Untuk apa Gaza, Irak, Afghanistan, Ambon, Poso, Aceh, Papua, Prabowo, Wiranto, Sintong, Kivlan? Untuk apa? Untuk masa depankah?

Ataukah, jangan-jangan semua ini hanya karena "kita" berbeda dari "mereka" dan oleh karena itu "mereka" harus dilenyapkan supaya "kita" berkuasa? Apakah ketika "mereka" lenyap maka masa depan itu otomatis menjadi milik "kita?. Apa hak kita untuk bertingkah bagai pemilik tunggal untuk apa yang disebut sebagai masa depan? Oh, semua itu saudara, hanya akna membawa kita kepada satu situasi saling membantai yang tak berujung. Ingatlah bahwa CCR, lewat vokalisnya yang dahsyat John Fogerty yang sekaligus pencipta hampir semua lagu-lagu CCR, pernah "menjerit" dan "berpesan"...heeeeiiiii..... someday will never comes .....

Jumat, 06 Maret 2009

"may be" by thom pace (theme song of TV series: grizzly adams) .... alam kita rumah kita dan, entahlah,....hidup kita

Dear sahabat blogger,

Tahun 1980-an awal, di layar TVRI - ketika itu stasiun TV lain tidak ada - diputar sebuah serial TV yang legendaris, yaitu “the live and times of grizzly adams”. Serial televisi ini berceritera tentang seseorang yang bernama Grizzly Adams yang melarikan diri dari tuntutan hukum karena diduga terlibat dalam suatu perkara pembunuhan. Adams melarikan diri karena merasa tidak pernah berbuat kesalahan apapun.

Adams melarikan diri ke arah pegunungan (mountain) dan mencoba bertahan hidup di sana sedapat-dapatnya (struggling for live). Dalam satu kesempatan, Adams bertemu seekor beruang grizzly yang sendirian (orphans), belakangan diberi nama Ben, lalu mencoba bersahabat dengannya. Dan itulah yang terjadi kendati sulit di awalnya karena si beruang, bagaimanapun, adalah hewan liar (wildlife) dengan naluri membunuh yang besar. Keduanya bersama-sama bertualang menelusuri gunung, hutan, sungai dan berbagai kehidupan liar lainnya sembari melindungi dan memelihara alam yang ada. Berteman bersama mereka adalah seorang pedagang tua, the Mad Jack, dan seorang native american - pria Indian - Nakoma.

Begitulah film cantik itu dan saya tak pernah melewatkan satupun serial itu. Memandang gambar-gambar alam nan asli, asri dan cantik adalah getaran tersendiri. Salah satu alasan mengapa saya selalu memilih bidang ilmu selalu berkaitan dengan alam bebas - peternakan range, ekologi tanaman dan perlindungan hutan - antara lain terinspirasi oleh film TV ini. Menonton persahabatan yang tulus di antara dua spesies yang berbeda mendatangkan degup tersendiri bagi rasa kemanusiaan kita. Salah satu adegan yang paling menggetarkan adalah ketika dengan tatapan mata nanar Ben harus menyaksikan Adams yang akhirnya tertangkap oleh seorang pemburu hadiah dan kembali dimasukkan ke dalam penjara. Tak kalah dahsyatnya dengan itu adalah adegan ketika kedua sahabat itu bertemu kembali karena setelah melewati proses hukum, Adams tidak terbukti bersalah. Kedua sahabat itu bertemu kembali dan melanjutkan persahabatan sembari terus mengembara di alam liar menebar kebaikan. Entah bagaimana cara pembuatan film itu tetapi ketika itu saya belajar 1 hal, yaitu persahabatan adalah mutiara yang sepatutnya dijaga.

Beberapa hari lalu, saya membaca berita bahwa di Sumatera Selatan dalam 1 tahun terakhir ini sudah 9 orang tewas diterkam harimau. Di Kupang, seorang pria tewas diterkam buaya. Kemanusiaan kita tergerak karena perasaan iba mendengar ada manusia yang mati diterkam binatang buas. Apa solusinya? Musnahkan si binatang buas? Mungkin begitu tetapi nanti dulu karena faktanya Harimau Sumatera adalah binatang liar yang dalam status dilindungi karena nyaris punah. Buaya Timor terolong hewan yang juga nyaris punah dan terpaksa dilindungi. Hiu yang menakutkan, Ikan Paus yang berukuran raksasa itu, Kuda Nil yang dahsyat gigitannya, Komodo yang ganas tetapi eksotik dan banyak lagi hewan perkasa lainnya itu pada faktanya adalah binatang yang terpaksa harus dilindungi karena nyaris punah. Mengapa mereka semua nyaris punah? Penyebab utamanya adalah perburuan oleh manusia dan yang lebih penting adalah ini: rusaknya habitat hewan liar itu karena alih fungsi lahan yang dilakukan manusia.

Atas nama sesama ras manusia kita patut bersedih atas matinya orang yang diterkam binatang buas. Akan tetapi obyektivitas kita harus menyadari bahwa ……manusia ternyata lebih buas dari binatang terbuas sekalipun….memang manusia kalah otot dan tenaga kebanding hewan-hewan liar itu tetapi dengan akalnya manusia berpotensi menjadi monster yang paling menakutkan. Seorang diri, Ryan van Jombang mampu menghabisi 11 orang. Hanya demi ambisi 1 orang, Hitler, 6 juta otang Yahudi harus meregang nyawa. Hanya karena ambisis berkuasa manusia mengkreasikan perang, yang menghabiskan jutaan nyawa sepanjang sejarah manusia. Dengan alasan perjuangan suci, manusia berani menabrakan pesawat ke twin tower di New Yor. Ribuan orang mati seketika. Demi memenangkan perang, hanya manusia yang mampu mengkreasikan bom atom dan cukup dengan sekali menjatuhkannya di Hiroshima. Matilah ratusan ribu nyawa sekaligus. Tanpa ampun. Tanpa kasihan. Jawablah saudaraku, siapa predator sesungguhnya?

Di tengah kesusahan hati itu, saya kembali teringan Adams dan Ben. Manusia dan binatang. Entah jikalau si Darwin benar bahwa kita masih sedulur dengan binatang-binatang. Terlepas benar tidaknya Darwin, yang pasti adalah kita dan alam adalah 2 obyek yang berbeda. Apakah karena kita berbeda maka kita boleh menusnahkannya? Mengapa kita dan mereka harus saling membunuh? Mengapa harus saling menghancurkan? Kemana rasa cinta kita? Kemana?

Marilah kita belajar dari Adam dan Ben. Lalu, Thom Peace menciptakan sebuah lagu cantik, yaitu “maybe” yang merupakan theme song dari serial TV itu. Lagu ini tidak saja indah dalam harmonisasinya tetapi liriknya membuat terkesima. Selamat menimba kearifan dari lagu ini.

Thom Pace Song Maybe “The Life and Times of Grizzly Adams
(versi audio recording)

(versi televisi)

Sabtu, 28 Februari 2009

Jose Feliciano: che sara - what will be - terjadilah apa yang harus terjadi

Dear Sahabat Blogger,


Dahoeloe kala, semasa duduk di bangku SMA, saya memiliki sebuah kenangan tersendiri tentang "karir bermusik". Pada waktu itu, di antara tahun 1978 - 1981, Kota Kupang dilanda demam anak-anak muda yang berlomba-lomba mendirikan grup vokal. Selain karena alasan ingin mengekspresikan diri, ada satu alasan lain yang tidak terucap, yaitu anggota grup vokal digandrungi cewek-cewek. Ada dua posisi di group vokal yang "mudah mendatangkan cewek-cewek" .... eeehhhhmmmm ..... ha ha ha ha, yaitu vokalis dan guitar player....


Nah, saya kebetulan punya sedikit kemampuan pada posisi pemain gitar...dan memang harus diakui cukup ampuh untuk ..... yaaaa itu tadilah ..... he he he he ......tapi saya "terpaksa harus berbagi dengan sang vokalis. Nah, karena ada peluang untuk "lebih berkuasa", diam-diam saya mulai "menakar" kemampuan saya dalam hal bernyanyi....dan saya menyimpulkan sendiri bahwa .... saya cukup mampu ........ hi hi hi .... mengapa saya berkesimpulan demikian? karena diam-diam saya merekam suara saya sendiri setelah berlatih keras .... amat keras ..... agar bisa bermain gitar sekaligus bernyanyi...dua hal yang umumnya dirasakan sulit Dua lagu yang saya rekam itu adalah "kisah sedih di hari minggu" (Koes Plus) dan "che sara" milik Jose Feliciano. Tentang Koesplus, kita sama sudah maklum siapa mereka tetapi bagaimana dengan Jose Feliciano? Anak muda sekarang jarang mengetahui siapa orang ini.


Jose Feliciano adalah penyanyi Amerika Serikat yang lahir di Puerto Rico. Dia memiliki jejak karir d
an diskografi yang panjang dan cemerlang. Sejak berusia 3 tahun Jose telah menyanyi. Pada tahun 1963, ketika dia berumur 18, dia dikontrak oleh perusahaan rekaman RCA Victor. Sejak itu ratusan lagu, baik yang berbahasa Inggris maupun Spanish-Latin, telah direkam Jose Feliciano. Puluhan di antaranya "meledak" di tangga-tangga lagu dunia. Di tahun 1968 Jose Feliciano membuat album dan salah satu lagunya "Light My Fire" meledak hebat dan menduduki posisi 3 di US music chart. Pada tahun itu juga Jose menyanyikan lagu "the Star-Spangled Banner" - American National Anthem - menurut versinya. Ketika diedarkan tak disangka single ini berhasil menduduki posisi di 100 top hits Billboard selama lebih dari 10 minggu. Pada tahun 1970- Jose merekam lagu Natal “Feliz Navidad” - dan lagi-lagi Jose menciptakan sensasi. Lagu ini dicatat sebagai salah satu di antara 100 lagu Natal terbaik sepanjang sejarah. Tepatnya berada di posisi ke - 25.


Pada tahun 1971 Jose terbang ke Italia dan ikut ambil bagian dalam festival musik San Remo. Jose m
enjadi pemenang nomor dua bukan karena dia elek tetapi karena …… he is not the Italiano. Namun, ketika itu, hanya ada 1 penyanyi yang diberi standing ovation oleh para penonton. Dialah Jose Feliciano. Dan lagu yang dinyanyikan di festival itu adalah "Che Sara". Lagu ini kemudian direkam dan Jose mendapatkan kepopuleran yang luar biasa di Eropa dan Asia. Jose mencapai puncak ketenarannya. Salah satu penanda keberhasilan Jose adalah berhasil dimenangkannya 6 Grammy Awards serta puluhan penghargaan lainnya.


Di mana letak kehebatan Jose Feliciano? Pertama adalah suaranya memang berciri khas. Hal ini semakin menarik karena teknik bernyanyinya yang penuh dengan nada ketukan yang tidak penuh (singkup). Titi nadanya bisa berloncatan begitu indah, tanpa keseleo, di antara nada-nada rendah dan tinggi. Cara Jose bernyanyi ditiru oleh banyak penyanyi. Rasanya cara bernyanyi Ebiet G ADE ada dalam pola Jose Feliciano. Hal lain adalah, Jose bernanyi dengan hati. Tidak dibikin-bikin. Dan yang terpenting adalah ini: kebanyakan lagu yang diciptakan dan dinanyikan Jose adalah jeritan hatinya sendiri yang meskipun susah, sedih tetapi selalu optimis. Mengapa Jose susah? Jose Feliciano buta sejak kecil. So, terjadilah yang harus terjadi. Tuhan Maka Kuasa. dan Maha Adil. Di balik kelemahan seseorang, dibuatnya penuh kelebihan. That's we call CHE SARA. What ever Will Be Will be ....... as God sure to Love....


Click Judul lagu di bawah ini dan nikmati suara indah Jose Feliciano

Che Sara - Jose Feliciano
(versi rekaman)

Jose Feliciano-Che SarĂ 

(versi concert – konser di Italia 1971)

...dan maukah anda mengetahui "hasil perjuangan" saya untuk bisa bernyanyi sekaligus bermain gitar?????? ....... Not recording. Not Grammy Awards also ..... but ...... my dear wife ..... ha ha ha ha ha ha ha - che sara - what ever will be ..... will be la yauuuuuwwwww.......


Tabe Tuan Tabe Puan


Kamis, 26 Februari 2009

song for JESUS by jon anderson

Jon Anderson adalah seorang penyani yang terkenal dengan kemampuannya mendaki nada-nada tinggi tanpa kehilangan kebeningan suara. Dia adalah vokalis group musik bergenre art rock YES yang terkenal dengan lagu, di antaranya, "the owner of a lonely heart" yang ngetop pada tahun 1980-an. Jon anderson juga merupakan vokalis group musik yang bergenre the art space music VANGELIS.

Saya memiliki banyak koleksi lagu-lagunya tetapi baru kali ini saya tahu dan mendengar Jon Anderson menyanyikan sebuah lagu yang bagi saya tergolong TERAMAT SANGAT DAHSYAT. Lagu itu adalah "the song for JESUS". Di mana letak kedahsyatan Jon Anderson dalam menyanyikan lagu itu? Saya kira ada kemapuannya untuk bercerotera tentang substansi lagu ini. Mari kita nikmati bersama

A Song For Jesus (candle song)
by jon anderson

Rabu, 25 Februari 2009

pulihkan hutan kita, dengan hati, sejengkal demi sejengkal (garden song by john denver)

Dear sahabat blogger,

Adakah di antara sahabat yang pernah tinggal di daerah gurun? bagaimana rasanya. Nyamankah? Menyenangkankah? Saya belum pernah bertempat tinggal di daerah gurun dan oleh karena itu senyatanya belum pernah tahu seperti apa rasanya tinggal di situ. Tetapi menurut apa yang bisa saya baca, suhu gurun jika siang dapat mencapai 50 - 60 oC dan malam hari bisa turun sampai di bawah 0 oC. Mengapa? karena udaranya kering sehingga ketika siang tidak ada penyerap panas yang datang sedangkan di malam hari tidak ada penahan panas yang keluar. Daerah gurun juga sama sekali tidak produktif sebagai lahan pertanian karena, selain suhu panasnya itu, hujan amat sedikit. Tidak jarang, hujan hanya turun sekali dalam 3-4 tahun. Woooooowwwwww.....bagaimana minum???? bagaimana mandi????? Bagimana pula bahan makanan????? Wah, kacaulah sudah pasti.......Oleh karena itu, tak pelak lagi tinggal digurun mestinya bukan sesuatu yang menyenangkan. Bahkan mungkin sengsara. Amat sengsara.

Suatu publikasi dari UNCCD (united nation convention to combat desertification) pada tahun 2007 mempublikasikan data bahwa ada 3 daerah di Indonesia yang terancam mengalami proses penggurunan, yaitu NTT, NTB dan Sulawesi Tengah. Lantas.......sabaaaaarrr duuluuuu.........whaaaaatttttttt??????? ada nama NTT disebut di situ? Tidak salahkah???? bukankah sekarang NTT dikenal lewat iklan ....SEKARANG SUMBER AIR SU DEKAAAATTTTT?????......walaaaaahhhh tobiiiillll....tobiiiiiilllllll..........ada apa gerangan ini?

Begitulah, bagi banyak orang kabar itu mungkin mengagetkan tetapi tidak bagi saya. Sejak tahun 2007 saya sudah memdengar data itu. Dan agak sulit saya membantahnya. Data yang ada di Forum DAS NTT menunjukkan bahwa laju kerusakan hutan NTT sekitar 15.000 ha/tahun sedangkan kemampuan pemerintah melakukan rehabilitasi hanya 3.000 ha/tahun. Data tahun 207 juga menunjukkan bahwa luas lahan kritis di NTT sebesar 91.5% dari total luas lahan daratan NTT 4.7 juta ha. Masyarakat terus saja gemar melakukan aktivitas pertanian tebas bakar secara kurang rasional. Peternakan sapi dibiarkan bebas merumput tanpa usaha untuk memperbaiki kondisi lahannya. Masyakarakat nyaris tidak memiliki budaya menanam kembali setiap pohon yang ditebangnya. Semua diserahkan kembali ke alam. Setiap tahun proyek rehabilitasi lahan macam GERHAN tak jelas juntrungannya.

Dalam keadaan begini saya teringat akan seorang petani di Desa Nenas, Timor Tengah Selatan kaki puncak tertinggi G. Mutis yang merupakan hulu 2 DAS paling besar di Timor Barat dan merupakan suatu desa yang amat terpencil. Setelah diadvokasi oleh saya dan kawan-kawan dari ForDAS NTT, beliau amat gemar menanam. Ketika kami mengidentifikasikan bahwa mutu hutan di desanya mulai terdegradasi lalu mencarikan anakan tanaman bambu sebanyak 20.000 anakan untuk ditanamn tanpa ragu semua anakan itu ditanam habis di sepanjang daerah aliran sungai yang melintasi desa itu. Yang mengejutkan adalah beliau grima kasih keemar menaman kembail setiap anakan yang ditemukan sudah mati mengering padahal masyarakat di sekitarnya hanya diam berpangku tangan. Pak Simon Sasi, begitu namanya. Saya pribadi memberi arti SASI sebagai sarjana ahli segala ilmu dan beliau tersipu tiap saya panggil begitu. Mengapa hal itu dilakukan oleh Pak Simon? Jawabnya adalah .....Saya hanya punya cinta kepada Tuhan yang sudah menciptakan semua yang saya perlu. Saya cuma mau berterima kasih kepada Tuhan......

Untuk semua usaha Pak Simon yang tak kenal lelah untuk terus menanam, sekaligus menghimbau kita semua untuk jangan lupa menanam agar lingkungan kita menjadi lebih baik, saya hadiahkan lagu cantik dari John Denver. Salah satu dewa musik bergenre Country. Lagu ini berjudul Garden Song yang berceritera tentang menanam seinci demi seinci sebaris demi sebaris. Tidak hanya itu, rawatlah tanaman yang ditaman itu. Iringi dia dengan doa karena kita memerlukan mereka, pohon-pohon itu, demi masa depan bumi kita. Masa depan kita sendiri.

The Garden Song
by john denver and the muppets

Tabe Tuan Tabe Puan

Kamis, 12 Februari 2009

kita anak-anak satu dunia - we are the world - USA for Africa

Dear sahabat blogger,

Tahun dulu, sebagai penggemar musik kelas berat saya amat rajin mencari-cari informasi tentang lagu-lagu barat yang baru lewat pemancar VOA, BBC atau Radio Australia. Memang terpaksa lewat radio karena siaran TV di Indonesia ketika didominasi oleh TVRI yang siarannya penuh dengan....petunjuk bapak presiden ....... dan, cilakanya, hal itu terjadi setiap hari. Tak berlebihan jika oleh sebagian kalangan berita TVRI dapat digolongkan sebagai siaran yang HARMOKO....hari-hari omong kosong.....(ada juga yang lain, yaitu HARTARTO....hari hari tarik to.....pi....ha ha ha ha).

Dan, ketika itu sekitar bulan Februari 1985, saya mendengar berita di VOA tentang diriilisnya sebuah single baru yang ngetop abiez. Penyanyinya adalah kelompok puluhan artis-artis penyanyi top dan legendaris serta bersal dari berbagai genre musik asal Amerika seperti Bob Dylan, Michael Jackson, Lionel Richie, Kenny Rogers, Tina Turner, Dione Warwick, Bruce Springsteen, Cyndi Lauper, Stevie Wonder, Paul Simon, Willie Nelson, All Jarreau, Diana Ross, Kim Carnes dan...wah masih banyak lagi yang lainnya. Kata penyiarnya, lagu yang diciptakan bersama oleh Michael Jackson dan Lionel Richie itu, direkam hanya dalam 1 malam. Sepulangnya para Artis itu dari malam penghargaan Grammy Award 1985.

Satu malam rekaman itu bukanlah satu malam yang lancar. Para penyanyi itu mula-mula cenderung mengemukakan egoisme mereka masing-masing sebagai penyanyi ngetop. Mereka bertengkar tentang siapa yang harus tampil secara ekslusif di setiap lirik. Siapa yang mengisi bagian bridging. Mereka juga bertengkar tentang lirik apa yang lebih pantas. Pada frasa "to make a brihgter day" aslinya adalah "to make a better day". Setelah bertengkar keras barulah disepakati menggunakan kata "brighter". Pada bagian "there’s a choice we’re making / we’re saving our own lives" sebenarnya berlirik asli "there’s a chance we’re taking / we’re taking our own lives". Bertengkar dan berubah. Prince ingin menampilkan solo gitar tersendiri di tengah lagu. Quincy Jones nggak setuju. Prince ngambek. Lalu, Waylon Jenning, penyanyi bergenre country marah atas perdebatan yang terjadi an ....quit. Pergi. Luar biasa kacau sebenarnya. Tapi lalu, menjelang pagi rekaman dapat dijalankan dan....jadilah lagu itu : WE ARE THE WORld.

Mengapa pada akhirnya take recording bisa dijalankan malam itu juga padahal suasana begitu "ricuh dan ramai". Adalah seorang Bruce Springsteen yang berteriak (cried otuloud).....i dont care whos is here to record this track, I'm here to help saved live ....... baaaaaaaaaannnnnnnnggggggg ...... semua diam dan bersepakat. Lalu mulai merekam. Apa makna kata-kata Bruce Springsteen itu tadi? Tujuan rekaman itu sebenarnya adalah untuk membantu para korban bencana kelaparan yang maha dahsyat yang menimpa oang-orang di Ethiopia Africa. Ketika beberapa tahun tidak turun hujan dan semua simpanan makan habis maka berjatuhanlah korban-korban mati kelaparan. Tidak1 1 atau 2 orang. Ribuan orang mati meregang nyawa kelaparan. Sementara para pemimpin negara itu leibh perduli berperang memperebutkan kekuasaan. Dan para artist USA for Africa (United Support Artist for Africa) itu merasa perduli. Yang mati di Ethiopia bukanlah sanak bukan pula kenalan. Mereka bernyanyi dan menjual album itu karena mereka merasa sebagai sesama warga dunia. 1 dunia 1 keluarga. Kita semua adalah anak satu dunia. Ada yang mati, mereka tidak boleh berpangku tangan. Yes, they are there to help saved live....

Lagu itu dengan cepat menjadi single hits no. 1 di berbagai anak tangga lagu dunia. Dan total penghasilan yang bisa dicapai oleh lagu itu sebesar sekitar 60 juta USD dan semuanya disumbangkan bagi korban kelaparan di Ethiopia. Apa yang dibuat oleh Indonesia? Kita membajak lagu itu. Seorang penyanyi kawakan kita malah membuat versi Indonesia dari lagu itu dan menikmati sendiri hasilnya. Tanpa rasa malu. Setiap kasetnya bisa kita beli seharga Rp. 1500,- dan masuk ke kantung para pengusaha dan kroni-kroninya ....anda tahu persis siapa mereka ......yang tetap saja HARMOKO dan HARTARTO di Negeri yang mengakunya ber-Pancasila ini.

Mari kita dengarkan himbauan dari jiwa kemanusiaan itu.
Click judul lagu di bawah ini

Senin, 09 Februari 2009

kata the lone cypress tree: "tegarlah jiwa". menurut achmad albar dan nicky astria: "jangan ada luka "

Dear sahabat blogger,

Tak sengaja, ketika sedang berseluncur di dunia maya guna mencari bahan presentasi tentang jenis-jenis pohon langka, saya bertemu dengan 1 species pohon yang amat langka. Bukan cuma langka, pohon ini juga dikenal sebagai salah satu di antara 10 pohon paling ajaib di dunia. Mari kita uraikan sebab musabab mengapa pohon ini dikatakan sebagai pohon ajaib.

Pohon dimaksud sebenarnya hanyalah pohon biasa saja. Spesies atau jenisnya adalah Cuperrus macrocarpa. Masyarakat di tempat tumbuhnya menyebutnya sebagai the Lone Cypress Tree (TLCT). Dinamai seperti itu karena dia tumbuh sendirian di atas sebuah tonjolan batu karang (beach rock) setinggi 100 m di atas permukaan laut di Pebble Beach, Monterey Bay, 17-mile Drive, California. Daerah pantai ini terletak tepat ke arah Lautan Pasifik yang maha luas itu.

Rupa bentuk pohon ini tidaklah istimewa amat. Bentuk sama sekali kurang sedap dipandang mata. Tingginya hanya sekitar 25 ft atau setara dengan sekitar 7,6 m (Callahan, 2008). Sebagai perbandingan, pohon sejenis yang tumbuh di hutan di sekitar pantai itu umumnya memiliki tinggi mencapai 80-an ft atau setara 25-an m. Jika pohon sejenis di hutan Calfornia berkanopi lebar maka TLCT berkanopi kecil. Bentuk batangnya pipih dan agak melintir. Hanya sebagian cabang ditumbuhi daun, sedang bagian lainnya gundul. Jadi, untuk ukuran pohon sejenis, TLCT tergolong pohon kerdil dan buruk rupa. Mengapa demikian?

Sekali waktu, rupanya ada sebutir sebiji jenis pohon Cypress yang jatuh di celah batu granit di tempatnya itu. Benih itu lalu tumbuh akan tetapi setiap kali muncul tunas batang langsung hancur diterjang angin Pasifik yang amat kencang. Sekali-sekali berhasil juga tumbuh berkembang menjadi pohon yang agak sempurna tetapi kembali porak poranda dihajar ganasnya angin Pasifik. Harap anda tahu saja bahwa pohon ini setiap hari harus menghadapi terjangan angin Lautan Pasifik yang berhembus dengan kecepatan 60-70 mph (mil per hour) yang setara dengan 96,6 - 112.7 km per jam. Pohon lain dipastikan akan tumbang diterjang angin dengan kecepatan seperti itu. Anda mau tahu lebih jauh? Terjangan angin seperti itu terjadi bukan sehari dua melainkan sepanjang lebih dari 250 tahun umur TLCT. Luar Biasa. Tak heran, jika kanopi pohon ini berukuran kecil maka pastilah hal itu karena dicabik-cabik angin. Batangnya yang pipih dan melintir merupakan hasil adaptasi terhadap kondisi sangat berangin kencang. Jika tidak pipih, bulat misalnya, pastilah sudah lama pohon ini tumbang. Terjangan angin juga menyebabkan batang pohon ini melintir mengikuti arah gerakan pelintiran angin.

Begitulah nasib si Cypres yang kerdil dan sendiri itu. Meski dihajar oleh angin kencang dan sering porak poranda tetapi dia tetap bertahan dan mencari jalan untuk terus bertumbuh. Diam dan perlahan tetapi pasti akarnya tumbuh menghunjam ke bawah mencapai tanah melewati poros-poros granit dan menyerap semua mineral yang tersedia. Dengan akar yang kokoh maka bagian atas TLCT, yaitu batang dan kanopi memiliki penyangga yang kuat. Dan, heeeeiii....meski berkali-kali dihancurkan angin yang kencang tetapi lama kelamaan sistem batangnya menjadi liat dan kuat untuk terus bertahan, bertumbuh dan berkembang sekalipun bentuk rupanya tidak karuan.

Pohon TLCY kemudian merupakan simbol atau landmark dari Pebble Beach Golf Resort di Monterey. Bahkan merupakan salah satu land mark kebangaan negara bagian Calfornia. Negeri para bintang film Hollywodd dengan Gubernur Negara Bagiannya bernama Arnold "the Predator" Shchwarzenegger. Anda tahu nama orang ini kan?

Oleh orang Amerika, pohon tersebut dianggap sebagai simbol ketegaran jiwa. The Lone Cypress Tree seakan memberi pelajaran kepada manusia untuk tetap tabah dalam hidup meski diterpa berbagai cobaan dan gelombang kehidupan. Kadang-kadang hidup yang indah ini berubah menjadi tidak ramah. Anda yang semula berdansa riang di atas panggung tiba-tiba bisa saja terjerembab jatuh ke bawah. Sakit memang tetapi jangan menyerah. Bangkit lagi dan teruslah tegak. Di negeri tempat mampir minum ini, jangan pernah berhenti berjalan.

Nah sahabat, jikalau sebatang pohon saja mampu bertahan terhadap badai terlebih lagi manusia. Seharusnya jangan mudah luka ketika mendapatkan pencobaan.

Tegarlah jiwa

Click judul lagu di bawah ini dan selamat menikmati